oleh

Pasca Banjir Warga Morowali Manfaatkan Kayu Gelondongan Jadi Transportasi Darurat

MOROWALI – Ambruknya jembatan Dampala pasca banjir bandang, akses jalur transportasi darat trans sulawesi di Desa Dampala menuju Siumbatu Kecamatan Bahodopi terputus total sejak 8 Juni 2019 sampai saat ini.

Untuk sampai di Bahodopi, awalnya masyarakat terpaksa harus menggunakan jalur laut dengan memanfaatkan kapal nelayan sekitar, meski biaya jasa penyeberangan terbilang mencekik 250 – 500 ribu per orang.

Lambannya penanganan pihak pemerintah daerah dan mahalnya biaya penyeberangan melalui jalur laut, menjadi alasan masyarakat Dampala berinisitif membuat jembatan darurat dengan memanfaatkan kayu gelondongan yang terseret banjir sebagai bahan jembatan.

Sementara, disisi lain sungai ada rakit atau biasa disebut rab yang bahannya dari drump plasti bantuan PT. IMIP untuk yang dibuat masyarakat siumbatu dan ditarik menggunakan tali dan katrol.

“Alhamdulillah pekerjaannya sudah selesai, biaya penyeberangannya pun terjangkau. Tetapi untuk berapa jumlah biaya yang harus dikeluarkan, setau saya hal itu masih dimusyawarahkan terlebih dahulu,” kata Ancong masyarakat Dampala penginisiatif pembuatan jembatan darurat, Sabtu (15/6/2019).

Ahyar Plt. Kades Siumbatu saat dikonfirmasi dilokasi sungai dampala-siumbatu. Ia mengatakan, bahan rakit ini berasal dari bantuan PT. IMIP yang dikerjakan secara bersama masyarakat sekitar.

“Tujuan kami membangun untuk dimanfaatkan sementara, sambil menunggu jembatan bally selesai di bangun,” ujarnya.

Menanggapi soal jumlah biaya penyeberangan, menurutnya tetap akan ada, namun terjangkau.

“Kalau pun ada pungutan atau biaya akan terjangkau dan tidak membebani masyarakat pengguna jalan,” tandasnya. (UP/WRD)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eleven + 16 =

News Feed