oleh

Brigjen TNI (Purn) Amsal Sampetondok:Dilan Paling Pas Pimpin Makassar,

MAKASSAR – Koordinator SangmaneNA Dilan untuk Makassar, Brigjen TNI (Purn) Amsal Sampetondok, menyampaikan Pilwalkot Makassar 2020 merupakan momentum penting yang akan menentukan arah pembangunan dan wajah ibukota provinsi Sulsel. Untuk itu, partisipasi masyarakat sangat diperlukan agar dapat memilih kandidat terbaik dari empat bakal pasangan calon yang ada.

Di mata Amsal, pasangan calon Syamsu Rizal-Fadli Ananda (Dilan) adalah paket ideal yang paling pas dan layak memimpin Makassar. Kedua tokoh ini secara garis besar merupakan representasi perwakilan masyarakat Makassar yang sangat beragam. Tidak kalah penting, Dilan membawa semangat pluralisme. Tidak membeda-membedakan atau mengkotak-kotakkan suku, agama dan lainnya.

Menurut Amsal, karakter dan pembawaan Deng Ical-sapaan akrab Syamsu Rizal, yang asli sombere’ mampu merangkul semua elemen yang ada di Makassar. Begitu pula dengan keramahan Dokter Pade-panggilan akrab Fadli Ananda, yang sama sekali tidak memiliki musuh politik membuat semuanya bisa menyatu bersama Dilan.

“Dilan membawa harapan ke arah yang lebih baik bagi kita semua. Pasangan ini juga membawa semangat pluralisme yang sangat penting dimiliki sosok pemimpin, keduanya diterima oleh semua elemen yang ada, baik di level elite maupun akar rumput. Ya bisa dibilang saat ini rakyat bersatu bersama Dilan, kekuatan rakyat ada pada pasangan ini,” ucap Amsal, di Makassar, Rabu, 16 September 2020.

SangmenaNa Dilan mewadahi perjuangan masyarakat Makassar asal Tana Toraja dan Toraja Utara untuk memenangkan Dilan.

Amsal mengimbuhkan selain karena mengusung semangat pluralisme, alasan dirinya bersama SangmaneNA solid memperjuangkan Dilan karena tahu pasangan ini dikawinkan bukan karena paksaan. Pasangan ini juga mencerminkan harapan anak muda untuk terjun ke politik, meski tanpa trah/dinasti atau nama besar di belakangnya.

“Paket ini bersatu untuk menjawab apa yang dibutuhkan oleh masyarakat Makassar. Diterima semua kalangan, bukan dikawinkan paksa. Dan percayalah, kebiasaan keduanya dalam hidup itu memang melayani. Jarang ambil posisi mau dilayani. Itu yang masyarakat Makassar butuhkan,” tandasnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × 5 =

News Feed